SISWA SMAN 1 LINGGA MENGEMAS SEJARAH MELAYU DALAM SASTRA DAN FILM DOKUMENTER MELALUI SEMARAK LOMBA DI MUSEUM LINGGAM CAHAYA 2019

Oleh: Nugraheni Dwi Agustin,S.Pd.

 

Program Publik di Museum Linggam Cahaya Kabupaten Lingga Tahun 2019 adalah menyelenggrakan lomba-lomba bagi siswa siswi SMA sederajat di Kabupaten Lingga. Lomba tersebut dipadu dengan salah satu misi Museum Linggam Cahaya yaitu peningkatan fungsi museum sebagai media pendidikan yang memiliki identitas nilai-nilai budaya Melayu yang agamis.  Ada tiga jenis lomba tahap 1 yaitu lomba baca puisi, lomba cipta puisi dan lomba film pendek.  Pihak panitia mengundang 24 sekolah di setiap kecamatan. SMAN 1 Lingga berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Siswa siswi yang terpilih adalah siswa siswi yang memiliki minat pada cabang lomba yang diadakan. Kegiatan lomba dijadwalkan terpisah. Lomba film pendek dilaksanakan pada hari Sabtu, 27 Juli 2019. Lomba cipta puisi Senin, 29 Juli dan lomba baca puisi Selasa 30 Juli 2019. Selama lomba siswa didampingi oleh guru Ibu Fitrina Zimarty, S.Pd. Setelah selesai kegiatan pengumuman pemenang langsung dilaksanakan.

 

SULTAN MAHMUD SYAH III DALAM PUISI

Menulis puisi menggunakan tokoh sejarah tentu merupakan tantangan tersendiri bagi Erma Yulisa siswa yang kini duduk di kelas XI IPA 2. Latihan yang cukup singkat selama dua hari tak menyurutkan semangatnya untuk berlomba. Di bawah asuhan Ibu Nugraheni Dwi Agustin, S.Pd, remaja yang aktif di ekstrakurikuler Palang Merah Remaja ini mulai belajar merangkai kata demi kata menjadi puisi. Belahar menyambung pusi. Selain itu Erma juga melakukan bimbingan online melaui media sosial whatapps.

Diakui guru pembinanya latihan yang terbilang masih sangat minim itu tetap mampu melahirkan sebuah puisi sederhana. “Menulis puisi memang membutuhkan latihan yang cukup. Harus berani, kreatif, imajinatif ketika bermain dengan kata-kata. Jika kita tergesa-gesa puisi bisa lahir secara ‘prematur’. Jika sudah prematur sebuah puisi juga akan rentan ‘cacat’. Intinya perbanyak latihan.” Ujarnya ketika menanggapi hasil lomba kali ini. Namun Erma sudah menunjukkan perkembangan yang cukup selama bimbingan. Erma terpilih untuk mewakili sekolahnya dalam lomba karena menggantikan rekannya yang sakit. Kesiapan Erma dalam bertanding sangat baik. Berikut puisi sederhana yang betemakan Pahlawan Melayu Sultan Mahmud Syah III.

 

SULTAN MAHMUD

Lembaran kisah layu berdebu

Digores tinta kelam kelabu

Terselak kisah dari bilik sepi

Berabad terbenam menuai junjung

Berselimut kata membingkai cerita

 

Negeri Bunda Tanah Melayu

Tempatmu berdaulat duhai Tuanku

Terserak tanya dan jejak tanda

Melati kesuma bangsa kemanakah harumnya?

 

Berpuluh bahkan beribu serdadu

Hendak menancapkan luka di tanah Melayu

Dengan gagah Tuan tak rela terjamah

Melarung hasrat di dada bagai ombak

Musnahkan pertikaian di tengah badai

Prajurit setia negeri tumpah darah

Bak dentum meriam memecah laut

Memukul arus musuh di jalur biru

 

Kenangan menghias dinding zaman

Meski tak fasih tutur lisanku, Tuan

Menjadi citra sejarahmu kini

 

Erma bersyukur karena telah mendapatkan bimbingan dan memiliki pengalaman dalam lomba. Kedepannya ia akan mencoba lagi dan belajar lagi dalam menulis puisi.  Menulis puisi kali ini mengikuti petunjuk teknis dari Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). Selama tiga jam Erma mengarang puisi dengan jumlah 20 baris. Tema puisi ditentukan ditempat. Aspek penilaian juga diatur seperti kesesuaian isi dan tema, kreativitas dan orisinalitas serta keindahan atau estetika.

MENGEKSPESIKAN PUISI DI ATAS PENTAS

Mementaskan puisi adalah tahapan apresiasi yang membutuhkan energi suara, eskpresi, gerak dan penampilan yang memukau. Dalam lomba Semarak Museum Linggam Cahaya 2019, panitia menyediakan puisi wajib yaitu Damnah Sayang karya Nurman. S dan lima puisi pilihan karya penyair Melayu yang lahir di Dabo Singkep yaitu Rida K. Liamsi seperti Pancang Nibung, Tempuling, Kemejan, Ombak Sekanak dan Kelekatu.

Arbaiyah, siswa yang duduk di kelas XI IPS 1 memilih puisi Kemejan. Arbaiyah menghafal puisi terlebih dahulu lalu berlatih mengeskpersikan dengan penghayatan. Puisi Damnah Sayang membawa pesan kepada pembaca tentang cerita pilu Istana Damnah di zaman kerajaan telah hancur oleh musuh Belanda yang kini hanya tersisa puing-puing saja. Tidak berbeda halnya dengan puisi Kemejan yang berisi perburuan terhadap ikan Hiu Kemejan oleh manusia. Arbaiyah mengaku memang tidak terlalu menyukai puisi namun ia bertekad tampil sebaik mungkin dalam perlombaan. Kesempatan ini ia gunakan untuk mencari pengalaman dalam puisi.

MENGEMAS SEJARAH DALAM FILM PENDEK

Tio Sepdi Rendy dan Armifizan Daniel Petra, dua siswa yang sama-sama duduk di kelas XI IPS 1 ini terpilih untuk mengikuti lomba Film Pendek dalam kegiatan Gebyar Museum Linggam Cahaya 2019. Sebuah film berhasil dibuat dari dapur produksi CREATIVE SMANSA FILMS. Dibawah bimbingan Bapak Agustiansyah S.Pd dan Ibu Lisma Nurliza, S.Pd bersama beberapa rekan guru lainnya. Penggarapan film pendek ini bertajuk “Sang Gerilya Laut Perintis Kesultanan Lingga”. Naskah film yang ditulis oleh Ibu Nugraheni Dwi Agustin,S.Pd mengangkat tentang Sultan Mahmud Syah III sebagai Sang Gerilya Laut yang kemudian mendirikan Kerajaan di wilayah Pulau Lingga sebagai bentuk strategi pertahanan dari musuh Belanda.

Selama mengikuti perlombaan kedua siswa mengaku sangat senang, Daniel menuturkan “Saya sangat senang karena ini  pengalaman pertama bagi saya.” Tidak berbeda dengan Rendy meski lebih dulu terjun di bidang film dan fotografi dan mendapatkan pengetahuan dalam kegiatan Grafika 3 di Belitung Timur tahun 2018, mengatakan proyek ini sebagai latihan untuk terus mengasah kemampuannya.

Karena penggarapan film yang begitu singkat, kendala yang dihadapi tim adalah waktu dan lokasi. “Kami kurang waktu dan transportasi untuk menuju ke tempat yang jauh. Proses pembuatan filmnya sedikit susah karena baru pertama kali mengikuti.” Imbuh Daniel. Sebagai siswa yang berminat di bidang film dan fotografi baik, Daniel maupun Tio berharap dapat lebih teliti lagi dalam menggarap film-film selanjutnya agar memperoleh hasil yang maksimal. “Kami bisa belajar dari kekurangan yang ada dari film tersebut. Meskipun dengan peralatan sederhana seperti tripod dan kamera”

Dengan bantuan dan pengarahan oleh guru-guru Pembina, film pendek berhasil dibuat dan mendapatakan juara II.  Tio dan Daniel sangat berterimaksih kepada sekolah dan guru-guru Pembina atas kesempatan yang diberikan sehingga bisa mengikuti lomba ini. “Kami dibimbing oleh guru kami dari awal proses pembuatan film sampai presentasi selalu diberikan semangat. Walaupun hasilnya belum maksimal. Terimaksih kepada guru pembimbing kami Pak Fezi, Pak Tian, Pak Ari, Pak Dullah, Bu Lisma, dan Bu Geni karena bimbingan mereka juga kami bisa meraih prestasi dan bisa membanggakan sekolah SMAN 1 Lingga yang kami cintai.”Ungkap Tio dengan haru. Harapan kedepannya adalah mereka bisa lagi menampilkan karya terbaru. “Saya harap lomba seperti ini tetap diadakan, bahkan kalau bisa durasinya ditambah lagi agar lebih banyak hal yang bisa kita angkat.”Ujar Daniel.**NG

FOTO-FOTO

Arbaiyah membaca puisi

Erma menulis puisi

Daniel dan Tio

Film

Proses pembuatn Film

Tio dan Daniel

Proses Pembuatan Film

Proses pembuatan film

tio dan daniel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *