MENELUSURI PARIS VAN SUMATERA KOTA PARA PENGUSAHA DALAM LAWATAN SEJARAH NASIONAL 2019

Oleh: Nugraheni DwiAgustin,S.Pd

Lawatan Sejarah Nasional (Lasenas) 2019 yang ke 17 ini diselenggarakan di Kota Medan. Kegiatan yang dijawalkan dari tanggal 8-12 Juli bertempat di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Sumatera Utara. Lasenas adalah kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Kali ini mengangkat tema “Generasi Penerus Majut Simpul-simpul Keindonesiaan.” Kegiatan ini dirancang dan diikuti oleh siswa-siswi se Indonesia berjumlah 94 orang juga guru pendamping se Indonesia berjumlah 41 orang.

Ruang lingkup kegiatan diantaranya adalah lomba Karya Tulis Sejarah (LKTS) yang diharapkan mampu menuangkan gagasan dan ide dalam bentuk tulisan. Kuis Kesejarahan bertujuan menambah wawasan dan pengetahuan siswa mengenai sejarah nasional dan objek lawatan. Temu tokoh sejarah yang bertujuan menumbuhkan rasa hormat dan apresiasi terhadap jasa tokoh pada bangsa. Lawatan ke tempat bersejarah yang tentunya memiliki nilai sejarah seperti Museum Perkebunan I dan II, Gedung Avros, Rumah Tjong A Fie, Gudang Tembakau dan lain-lain. Seminar kesejarahan untuk guru pendamping merupakan forum diskusi kesejarahan dalam dinamika proses belajar mengajar. Serta malam pentas seni yang mempersembahkan berbagai pertunjukan seni dan budaya siswa-siswi perwakilan dari setiap provinsi dalam cakupan wilayah Balai Pelestarian Nilai dan Budaya (BPNB).

 

Melewati Daratan, Menyeberangi Lautan, dan Terbang di Udara untuk Menuju Varis Van Sumatera

Peserta Lasenas yang berasal dari wilayah BPNB Kepulauan Riau meliputi Riau, Jambi dan Bangka Belitung memang bukan merupakan peserta terjauh dari batas wilayah Barat di pulau Sumatera mengingat peserta dari Indonesia bagian Timur seperti Papua, Manado dan Ambon juga ikut serta. Jumlah BPNB se Indonesia ada 11 provinsi. Di mulai dari Aceh, Padang, Kep. Riau, Jawa Barat, DI Jogyakarta, Bali, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Maluku dan Papua. Semua rombongan dijadwalkan paling lambat tiba di lokasi kegiatan yaitu LPMP Medan pada Senin, 8 Juli 2019 dari pukul 08.00 s.d. 18.30 WIB.

Rombongan Kepri yang terdiri dari 5 siswa yaitu Siti Nurfitri Anugerah Bintani dari SMAN 1 Lingga, Henny Syamratul Hasni dari SMAN 1 Karimun, Padli Rahman dari SMA Kartini Batam, Windu Adelia Putri dari SMAN 1 Gantung dan Luiz Fernando dari SMAN 3 Jambi.  Terdapat empat orang guru pendamping yaitu Bapak Alamsyah ,S.Pd dari Jambi, Bapak Amas Muda Hasibuan, S.Pd dari Batam, Ibu Nugraheni Dwi Agustin, S.Pd dari Lingga, dan Bapak Asep Santosa dari Bangka Belitung  dan satu orang koordinator BPNB yaitu Ibu Dr.Anastasia Wiwik Swastiwi.

Pelajar kelas XII yang akrab di panggil Iwa dan Guru Pembinanya Bu Geni memulai perjalanan sejak Minggu 7 Juli 2019 berlayar menuju pulau Batam. Mereka menginap semalam di Kota Industri itu karena penerbangan menuju Medan di mulai pukul 09.25 WIB. Dari hotel Sindo Gemilang rombongan menuju Bandara Hang Nadim pukul 06.30 WIB. Setibanya di bandara mereka akan menunggu peserta lain dari Kepri. Di ruang tunggu rupanya bertemu dengan peserta dari Bengkulu yang transit di Batam. Menggunakan maskapai Lion Air mereka semua diberangkatkan menuju Medan. Perjalanan kurang lebih satu jam 15 menit berjalan lancar. Cuaca cukup cerah dan pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara tepat pukul 11.15 Wib.

Saat rombongan bergerak menuju pintu ke luar bandara, terlihat dua orang berdiri dengan jaket panitia dan papan nama bertuliskan “Peserta Lasenas”. Rombongan menghampiri dan saling memperkenalkan diri. Beliau adalah Pak Fuad Mulidan dan Pak Nurudin. Transportasi yang akan membawa peserta Lasenas sudah standby di parkir. Namun karena jumlah peserta masih terlalu sedikit, rombongan diminta menunggu sejenak kedatangan peserta dari Jawa Tengah dan Jawa Barat. Alhamdulillah menjelang zuhur, semua sudah siap diberangkatkan menuju LPMP Medan.

Proses registrasi peserta berjalan lancar. Panitia pendaftaran Ibu Annisa Mardiani dan Maastasia Avionita dan rekan lainnya menyambut ramah.  Peserta dan Guru Pendamping mendapatkan fasilitas berupa kaos, jaket, tas berisi perlengkapan alat tulis, buku panduan kegiatan dan destinasi sejarah yang akan dikunjungi selama kegiatan. Peserta siswa ditempatkan terpisah. Siswa menginap di Wisma Melati sedangkan Guru Pendamping di Wisma Dahlia

Pembekalan Teknis Lasenas Membawa Kita Lebih Tahu Sejarah Provinsi Sumatera Utara

Pembukaan acara dilakukan malam hari pukul 19.00 WIB bertempat di Gedung Pancasila yang terletak di seberang gedung LPMP. Dengan berpakaian bebas rapi semua peserta mengikuti tertib acara. Sebagai narasumber adalah Kepala Subdirektorat Sumber Sejarah dan Kepala BPNB Aceh menyampikan pengantar Sejarah Sumatera Utara.

Ibu Dra. Azlina Laila Syahriza, M.Pd memaparkan pada zaman pemerintahan Belanda, Sumatera Utara merupakan suatu pemerintahan yang bernama Gouvernment van Sumatera dengan wilayah meliputi seluruh pulau Sumatera. Dipimpin oleh seorang gubernur yang berkedudukan di kota Medan.

Setelah kemerdekaan, dalam sidang pertama Komite Nasional Daerah (KND), Provinsi Sumatera kemudian dibagi menjadi tiga sub povinsi yaitu: Sumatera Utara, Sumatera Tengah, dan Sumatera Selatan. Sumatera Utara sendiri merupakan penggabungan dari tiga daerah administrative yang disebut kresidenan yaitu: Kresidenan Aceh, Kresidenan Sumatera Timur, dan Kresidenan Tapanuli. Dengan diterbitkannya Undang Undang Republik Indonesia (R.I) no. 10 tahun 1948 pada tanggal 15 April 1948 ditetapkan bahwa Sumatera dibagi menjadi tiga provinsi yangmasing-masing berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Maka hari jadi Provinsi Sumatera Utara ditetapkan pada tanggal 15 April 1948.

Adat istiadat yang ada di Sumatera Utara adalah suku Batak. Nama Batak merupakan sebuah tema kolektif untuk mengidentifikasikan beberapa suku bangsa yang bermukim dan berasal dari Tapanuli dan Sumatera Timur. Suku bangsa yang dikategorikan sebagai suku Batak adalah Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, Batak Simalungun, Batak Angkola, dan Batak Mandailing. Namun, ketika Belanda datang membuat terpisah-pisahnya kelompok Batak tersebut. Dengan demikian istilah “Tanah Batak” dan “Rakyat Batak” diciptakan oleh pihak asing. Akibatnya sebagian orang Karo, Angkola, dan Mandailing tidak mau menyebut dirinya sebagai suku Batak karena umunya istilah “Batak” dipandang rendah oleh bangsa lain. Sebagian orang Tapanuli tidak mau menyebut diri mereka Batak karena perbedaan agama yang sangat mencolok dengan orang Batak kebanyakan.

Suku Batak dikenal dengan banyaknya marga yang diambil dari garis keturunan laki-laki. Marga tersebut menjadi simbol bagi keluarga Batak. Menurut kepercayaan bangsa Batak, induk marga Batak dimulai dari SI Raja Batak yang diyakini sebagai asal mula orang Batak.  Si Raja Batak mempunyai dua orang putera bernama Guru Tatea Bulan dan SI Raja Isumbaon.

Ikon kota Medan yaitu Istana Maimun. Istana ini dibangun oleh Sultan Deli Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah pada tahun 1888. Didesain oleh arsitek berkebangsaan Italia. Maimun memiliki desain interior yang unik dan mencerminkan perpaduan antara warisan budaya khas Melayu, Eropa dan Italia. Dengan luas sekitar 2.772 m2, Istana bernunasa serba kuning ini  memiliki 30 ruangan di dalamnya. Di dalam balairung seluas 412 m2 terdapat singgasana yang juga didominasi wana kuning. Dahulu ruangan ini kerap digunakan untuk upacara penobatan Sultan Deli atau acara adat lainnya.

Kesenian Tari Tor-tor merupakan ciri khas kebudayaan suku Batak. Tarian ini bersifat magis. Adapun warisan budaya berupa tenunan adalah kain ulos. Kain hasil kerajinan warga suku Batak ini selalu ditampilkan saat upacara perkawinan, mendirikan rumah, upacara kematian, penyerahan harta warisan, menyambutan tamu yang dihormati dan upacra menari Tor-tor.

 

Agenda Baru Lasenas 2019 Diadakan Workshop Siswa dan Guru dari Narasumber Berkelas

  1. Workshop Fotografi dan Videografi bagi Siswa oleh Feri Latif

Sosok Feri Latif mungkin belum begitu popular bagi peserta Lasenas. Namun begitu beliau memperkenalkan diri satu kata yang paling tepat yaitu “luar bisa”. Rasa kagum layak muncul di benar para remaja dan penyuka seni fotografi dan videografi. Beliau adalah lulusan terbaik World Press Photo Courses 2004-2005. Ia juga memberikan kontribusi foto pada National Geographic Indonesia, Reuters dan berbagai media lain.

Beliau menuturkan agar bisa menghasilkan sebuah foto berkualitas National Geographic butuh jam terbang dan ketekunan. Peserta mendapatkan teknik melakukan pengambilan foto dan beberapa teori dasar yang harus dipraktekkan dalam membidik gambar.

  1. Workhsop Pendidikan Sejarah dalam Media Baru oleh Bonnie Triyana

Bonnie Triyana merupakan sejarawan. Beliau merupakan pemimpin redaksi majalah sejarah popular pertama di Indonesia yaitu Historia. Pemberian nama Historia sempat ia ceritakan dalam workshop yang dihadiri 41 orang guru se-Indonesia. Materinya menjelaskan tentang “Belajar Sejarah itu Asyik”. Beliau menyampaikan materi selama 90 menit di ruang kelas.

Penyampaian paparan dimulai dari mengkaji mengapa pelajaran Sejarah terkesan membosankan. Terdapat 5 alasan yaitu: (1) Karena berkisar pada soal angka tahun peristiwa; (2) Karena menitikberatkan pada hapalan nama tokoh, bukan pada pemahaman yang holistik atas berbagai peristiwa sejarah; (3) Kurangnya imajinasi dalam membangun narasi peristiwa masa lalu; dan (4) Sudut pandang yang salah dan sempitnya cakrawala berpikir dalam memandang peristiwa sejarah.

Gagasan yang harus muncul dalam benak para guru dibangun sedimikian rupa bahwa Guru Sejarag harus memiliki pemahaman yang baik tentang bagaimana mengajarkan Sejarah di sekolah-sekolah. Alasan utama adalah sejarah menjadi isu penting di Indonesia. Dalam paparan Bonnie menjelaskan semenjak Orde Baru berkuasa, sejarah diajarkan secara sepihak. Terlebih tema mengenai peralihan kekuasaan Sukarno ke Soeharto. Pengajaran sejarah menjadi tidak bebas karena harus mengacu pada apa yang ditentukan oleh penguasa. Generasi muda tidak pernah mendapatkan pendidikan sejarah yang memadai. Ditambah lagi kekeliruan dalam memahami sejarah turut membentuk pola pikir masyarakat akan persoalan masa kini dan masa depan.

Karena kehawatiran itu lah, medium yang bisa dipakai untuk menghubungkan sejarah dengan peserta didik adalah museum. Di Indonesia jumlah museum ada 435 bangunan. Kondisinya bervariasi. Siswa juga dapat belajar dari situs cagar budaya yang tersebar di daerah. Ada 2.319 cagar sejarah di Indonesia.

Mengikuti perkembangan zaman memasuki era industri 4.0 pemanfaatan media lebih diutamakan. Guru dapat memanfaatkan kecanggihan teknologi seperti media Online sebagai wahana pembelajaran sejarah ada Instagram, Facebook, Twitter, Youtube, dan Website sejarah lainnya. Hasil dari worksop ini guru peserta Lasenas diminta membuat presentasi pembelajaran sejarah menggunakan media pembelajaran powerpoint atau video.

  1. Workshop Public Speaking oleh Mozes Sosa

Tidak hanya mengikuti kelas fotografi dan videografi, siswa juga mendaatkan ilmu public speaking dari Mozes Sosa. Beliau bernama asli Mozes Riupassa. Dinukil dari blog pribadinya, Mozes Sosa mulai memakai nama tersebut ketika pertama kali akan mengisi siaran langsung  sepakbola di Trans TV 2004. Beliau memang menyukai sepakbola, public speaking, human behavior dan menulis.

Agenda Lasenas tidak tanggung-tanggung mengundang narasumber terbaik sebagai upaya untuk merajut simpul-simpul keIndonesiaan. Mozes Sosa adalah pelatih Public Speaking secara estafet di lokasi terbanyak dan berhasil mendapakan rekor MURI. Mozes memberikan pelatihan gratis keliling Jawa 2018 yang ditempuh selama 73 hari sejak 1 Maret 2018. Ia telah singgah di 29 kota. Kelas yang diadakan sebanyak 52 kali.

Beberapa nasihat tertulis di dalam blog pribadinya yang dikutip dari buku “Seed of Inspiration”-Motivasi untuk setiap hari- karya Esther Idayati. Menurut Mozes ada saatnya kita bicara da nada saatnya kita diam, berikut ulasannya:

  1. Ketika tidak menguasai subjek. Bila Anda diam, orang berpikir bahwa Anda pintar karena mendengarkan sambil berpikir. Kata Abraham Lincoln “lebih baik diam dan dipikir orang bodoh, dari pada berbicara lalu menghilangkan semua keraguan orang.”
  2. Ketika hendak menyombong. Pribahasa Melayu berkata, “Seekor-kura-kura menghasilkan ribuan telur tanpa seorang pun tahu. Tetapi bila ayam menghasilkan sebutir telur, seluruh negeri diberi tahu.” Tidak ada salahnya berbagi kegembiraan, tetapi ada batsnya antara berbagi dan menyombongkan diri.
  3. Ketika berhadapan dengan orang yang ngotot. Diam adalah jawaban terbaik bagi seseorang bodoh atau ngotot karena sebenarnya lawan bicara Anda tidak layak untuk sebuah argumen. Ia sudah memutuskan tidak mau mendengarkan dan berusaha mengerti.
  4. Ketika sangat kesal. Kalau Anda tidak bisa positif, paling tidak Anda bisa diam, kata Joel Oesteen. Dan diam menghindari banyak masalah. Biarlah kita dapat menjadi bijak, tahu kapan berkata-kata dan kapan diam.

Pribahasa Arab menyampaikan, “Buka mulut Anda hanya bila apa yang akan Anda katakan lebih indah dari pada diam.”

 

Melawat ke Berbagai Objek Sejarah di Kota Medan

Rabu, 10 Juli 2019 rombongan peserta Lasenas mulai bergerak menuju ke beberapa objek sejarah di kota Medan.  Menggunakan empat buah bis pariwisata, sejak pukul 08.00 hingga pukul 17.00 wib. Mengunjungi ojek sejarah diagendakan selama dua hari.

  1. Museum Perkebunan 1

Peta lawatan di mulai dari mengunjungi Museum Perkebunan yang berlokasi di Jalan Brigjen Katamso, Kampung Baru, Kecamatan Medan Maimun, kota Medan. Museum perkebunan Indonesia di resmikan pada tanggal 10 Desember 2016. Museum ini menggunakan sebuah bangunan peninggalan AVROS (Algemeene Vereeninging van Rubberpanters ter Ooskust van Sumatra) sebuah organisasi perkebunan karet Sumatra Timur yang berdiri pada tahun 1911. AVROS pada 1916 kemudian memiliki badan penelitian yang berkembang kini menjadi Pusat Penelitian Kalapa Sawit (PPKS). Di akwasan PPKS inilai Museum Perkebunan Inodnesia berada.

Di sekitar gedung ini terdapat lokasi atau tempat pengolahan cokelat yang berbahan dasar minyak kelapa sawit yang diolah menjadi Cocoa Butter Skim. Peserta diajak untuk melihat tahapan pembuatan cokelat hingga mencetak sendiri cokelat yang disediakan oleh karyawan di sana. Selain itu ada juga pemanfaatan minyak kelapa sawit sebagai bahan pembuatan lilin aroma terapi. Kedua hasil produk tersebut dapat djadikan oleh-oleh saat pulang kunjungan.

  1. Gedung BKS PPS/ AVROS

Berlokasi di Jalan Pemuda no 10A, AUR Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan. Gedung BKS PPS (Badan kerja Sama Perusahaan Perkebunan Sumatera) dahulunya adalah kantor dari AVROS. Gadung AVROS ini dibangun pada 1819 hingga 1919. Arsitek gedung ini adalah G.H Mulder. Ia membangun gedung AVROS dipengaruhi oleh gaya rasionalisme yang bangkit pada abad ke-20 dengan dekorasi interior sederhana bergaya art-nouveaou.

Peserta diajak berkeliling gedung yang dipandu oleh seorang instruktur. Terdapat sebuah jam tua di lantai atas yang masih berfungsi dengan aktif. Dentang jamnya masih berbunyi namun karena keriuhan kota, bunyi lonceng itu tertelan suara deru kendaraan di sekitar bangunan. Selama 30 menit kunjungan berlangsung lalu rombongan melanjutkan ke lokasi berikutnya.

  1. Gedung London Sumatera

Berlokasi di Jalan Jendral Ahmad Yani, No 2 Kesawan, Kecamatan Medan Bar, Kota Medan. Saat didirikan, Gedung lonsum (London Sumatera) adalah kantor dari perusahaan perkebunan milik Harrison & Crossfield Plc, yakni perusahaan perkebunan dan perdagangan yang berbasis di London. Dibangun pada tahun 1906 dengan arsitektur bergaya transisi, Horrison & Crossfiled menyebut gedung ini sebagai gedung Juliana. Setelah Indonesia merdeka gedung ini dinasionalisasi dan berubah menjadi PT PP London Sumatera Indonesia.

  1. Rumah Tjong A Fie

Belokasi di jalan Ahmad Yani No. 105 Kesawan, kecamatan Medan Bar, Kota Medan. Tjong A Fie adalah salah satu orang yang sukses pada masanya. Ia adalah seorang gigih yang berhasil mengembangkan perkebunan-perkebunan yang berpusat di kota Medan. Terkenal sebagai orang yang dermawan, 1913 Tjong A Fie menyumbangkan sebuah lonceng pada Gedung balai Kota Lama Medan. Ia un berkontribusi untuk pendanaan bangunan lain di Medan seperti Istana Maimun dan Ruamah Sakit Tjie On Jie Jan.

Rombongan diajak berkeliling ke semua ruangan. Mulai dari tempat jamuan makan, dapur, ruang kerja, ruang keluarga, kamar tamu dan kamar anak. Bangunan rumah Tjong A Fie dikelola oleh pihak keluarga secara turun temurun.

  1. Gedung Tembakau PTPN II

Berlokasi Di Jalan Kelambir V, Tj. Gusta, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Deli merupakan salah satu wilayah tersukses bagi proyek Perkebunan tembakau. Jacob Neinhyus pada pertengahan abad ke-19 kala itu tembakau Deli berhasil menjadi komoditas yang mendunia bahkan yang terbaik di masanya. Adalah blok perkebunan Helvetia yang menjadi salah satu wilayah perkebunan di Deli, Medan Marelan. Kini area perkebunan Helvetia dikelola  PTPN II. Di sana terdapat peninggalan peninggalan perkebunan dan pabrik tembakau. Salah satunya adalah pabrik pemeraman tembakau. Bangunan di wilayah ini menjadi salah satu bukti kejayaan tembakau Deli. Tepat tahun ini 2019, produksi tembakau Deli menghentikan kegiatan eskspor. Dan tahun inii juga gudang tembakau mulai belajar membuat cerutu sendiri.

  1. Istana Maimun

Berlokasi di Jalan Sultan Ma’moen Al Rasyid no 66, AUR Kecamatan Medan Maimun, Kota Medan. Ini adalah sebuah Istana peninggalan Kesultaan Deli. Tidak hanya menjadi temapt tinggal keluarga Sultan. Istana juag menjadi pusat adat dan budaya Melayu, tempat bermusyawarah, dan pusat dakwah Islam. Mulai dibangun tahun 1888 pada masa Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah, Istana Maimun kini dimanfaatkan sebagai museum dan menjadi salah satu objek wisata termahsyur di Medan.

  1. Mesjid Raya AL- Mahsun, Medan

Berlokasi di Sipiso Piso, Mesjid, Kecamatan Medan Kota, Kota Medan. Mesjid ini dibangun oleh Sultan Ma’moen Al Rasyid Perkasa Alamsyah yang dikenal dengan Mesjid Raya Medan. Dibangun pada tahun 1906 dan berusia hamper seabad. Dilihat dari kubah dan lengkungannya, Mesjid ini memiliki sentuhan Timur Tengah dan Andalusia. Rombongan menyempatkan menunaikan sholat ashar di dalam Mesjid sebelum kembali ke LPMP.

Kegiatan Lasenas Bertabur Hadiah. Peserta Lasenas Kepri mendapat Dua Posisi Karya Ilmiah Terbaik.

Kegiatan Lasenas memberikan aprsiasi kepada siswa-siswi dari Karya Tulis yang dikirimkan setelah direvisi oleh pembimbing masing-masing. Keenam siswa dengan Karya Ilmiah terbaik diminta menyampaikan piadatonya pada Kamis, 11 Juli 2019 pukul 14.00 s.d.15.30 WIB. Barulah setelah itu akan ditentukan siapa yang berhak mendapatkan posisi pertama hingga enam. Luis Fernando dari SMAN 3 Jambi posisi II dan Henny dari SMAN 1 Karimun diposisi Harapan 1. Kedua siswa langsung dibimbing oleh Mozes Sosa.

Selain itu tiap kelompok dari siswa dan guru diminta menyampaikan presentasi materi lawatan yang telah berhasil disusun dihadapan dewan juri. Bertabur hadiah diberikan pada kegaiatan Lasenas. Kelompok Guru dan siswa yang menampilkan presentasi lawatan terbaik diberikan hadiah tumbler cantik. Siswa teraktif dan guru teraktif juga diapresiasi.    

Di penghujung acara diadakan pentas seni yang melibatkan satu kelompok BPNB. Peserta dari BPNB Kepulauan Riau menampilkan sosiodrama yang berjudul “Perjuangan Rakyat Tanjung Batu dalam Melawan Imperialisme Jepang” yang ditulis oleh Pak Alamsyah. Ada 11 tampilan seni. Acara berakhir pukul 23.05 WIB. Penampilan seni terbaik juga diumumkan.

Semua rangkaian kegiatan Laesenas Alhamdulillah telah berjalan dengan lancar dan tuntas. Maka seluruh rombongan dipulangkan secara bergantian ke daerah masing-masing pada Jumat, 12 Juli 2019. Rombongan BPNB Kepri menggunakan bus yang sama dengan rombongan dari daerah Bengkulu, Sumatera Selatan dan DI Jogjakarta menuju Bandara Kuala Namu pukul 06.30 wib. Suka dan duka telah dilalui bersama selama hampir sepekan. Saat pulang ke daerah masing-masing para siswa dan guru mendapatkan oleh-oleh berupa ilmu dan pengalaman berharga. Selanjutnya setiap peserta baik guru mau pun siswa mendapatkan proyek yang berbeda sepulang dari kegiatan sebagai syarat untuk memperoleh sertifikat Lasenas. Di akhir tulisan ini saya ingin meneriakkan motto Lasenas yang menghidupkan semangat para peserta.  “Lasenas…? Horas majua jua…!! Salam Budaya. Salam lestari. Terimakasih. **NG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *