FLS2N, DUO PENARI SMA NEGERI 1 LINGGA MELENGGANG KE NASIONAL

Oleh: Nugraheni Dwi Agustin,S.Pd.

Kegiatan Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tahun 2019 yang diselengarakan di hotel Golden View, Batam pada 24 -27 Juni 2019 melibatkan peserta dari berbagai Sekolah Menengah se-Provinsi Kepulauan Riau. Lomba ini mencakup bidang seni pertunjukkan dan seni penciptaan. Tema yang diusung adalah “Bersama dalam Seni.”

LAKON MENGHIBUR PENONTON

SMAN 1 Lingga ikut berpastisipasi menyertakan para siswa dalam bidang monolog, tari berpasangan dan cipta puisi. Muhaimin Siswa kelas XI IPS 3 mengikuti cabang monolog  dan memilih judul Kayon. Cerita yang mengisahkan tentang tokoh pewayangan tanah Jawa ini menuntut kemampuannya untuk beradaptasi baik dari segi logat, pakaian dan properti yang digunakan.  Muhaimin merasa sangat senang bisa ikut serta. Ia memang menggemari teater dan tergabung dalam sanggar Bertuah. Ia sangat bersemangat saat mendapat kesempatan mengikuti ajang FLS2N ini. Muhaimin cukup senang bisa tampil menghibur semua penonton. “Ketika penonton terhibur di sanalah keberhasilan sebuah lakon.” Ujarnya ketika dihubungi via whatapps. Ia akan terus mendalami seni peran sebagaimana hobinya.

 

MENARI DALAM KEBERSAMAAN

Tari berpasangan membawa tema “Menari dalam Kebersamaan”. Tema ini diusung untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dalam berkehidupan di Indonesia. Kebersamaan diperlukan untuk mengatasi berbagai permasalahan masa kini baik di lingkungan social maupun alam sehingga mampu menempatkan diri sebagai bangsa yang bermartabat.

Tim SMA Negeri 1 Lingga diwakili oleh Risma Elviani dan Rheza Alamsyah Khadafi. Gagasan, garapan dan penampilan merupakan tiga poin penilaian dalam lomba tari kerasi. Mereka membawakan tari dengan judul “Sepemikulan”. Sungguh merupakan kesempatan yang baik bagi keduanya di bawah asuhan ibu Lisma Nurliza,S.Pd cabang tari berpasangan ini berhasil meraih juara 1 dan akan melanjutkan ke tingkat nasional di Lampung pada bulan September.

Sebagai pelatih tari, Bu Lisma mengaku sangat senang dan penuh syukur, ”Bersyukur pastinya. Alhamdulillah anak-anak dapat tampil maksimal sehingga hasilnya sesuai harapan kita” Ujarnya dalam wawancara via whatapps. Setelah mendapatkan kesempatan untuk berlaga di tingkat nasional bulan September, tim tari melakukan persiapan lebih ekstra. “Perlu persiapan yang lebih ekstra baik dari penari itu sendiri maupun dari segi musik dan koreonya. Harus lebih dipersiapkan lagi.” Ibu yang lahir dan dibesarkan di Lingga ini optimis timnya sedang  melakukan persiapan dengan matang. “Kita maksimalkan lagi baik dari durasi maupun dinamikanya. Begitu juga dengan koreo karena antara koreo dan musik harus sejalan.” Meskipun beliau merupakan guru spesifikasi di bidang Fisika namun memiliki bakat di bidang seni tari. Menghadapi perlombaan nanti tentu memiliki tantangan tersndiri sebagai pelatih, “tantangannya di salah satu penari merupakan penari baru dan ajang ini merupakan penampilan perdananya. Saya sebagai pembina memang lebih banyak berkosentrasi untuk melatih dan berproses pada penari putra.”

Tongkat estafet perlombaan sudah dipegang dan siap untuk dilanjutkan ke tingkat Nasional. Harapan-harapan kepada keduanya terus dilakukan untuk memotivasi agar anak asuhnya lebih giat dan fokus serta berminat dalam tarian ini. “Sekolah di sini tentu saja menjadi wadah yang penting untuk menyalurkan bakat anak anak melalui ektrakurikuler kita. Harapannya semoga ekskul ini tetap berjalan lancar. Aamiin.” Optimisme terus mengalir dari sosok guru yang memengang motto hidup, kegagalan merupakan bagian dari pondasi hidup agar lebih baik. Kita doakan bersama semoga tim tari berpasangan SMAN 1 Lingga menoreh prestasi yang lebih baik lagi di tingkat nasional. Aamiin.

 

BERPROSES UNTUK MENDAPATKAN HASIL

Judul diatas merupakan kalimat sakti yang memotivasi salah satu penari berpasangan dalam ajang FLS2N Risma Elviani. Remaja kelahiran Tanjungpinang 17 tahun lalu dan hobi menari ini menyampaikan perasaan senang karena diberi kepercayaan dari sekolah untuk berkompetisi. Meskipun sempat terkejut ketika diumumkan keberhasilan timnya meraih juara 1 pada cabang tari berpasangan itu, ia merasa semakin tertantang. Selama latihan ketika mempersiapkan lomba, penyuka mie ayam ini menuturkan “tantangan selama latihan cara berekspresi dan bagaimana membangun suasana saat menari, agar yang menonton dapat terhibur dan tersampaikan jalan serta alur cerita dari tarian tersebut.”

Tidak berbeda jauh dengan perasaan Rezha Alamsyah Khadafi, ia pun merasa sangat senang dan bersyukur sekali atas perolehan juara tersebut. Sebagai penari baru, persoalan yang Rezha hadapi berbeda dengan rekan pasangannya menari. Soal penguasaan gerakan tarian yang menurutnya masih agak kaku. Meskipun begitu ia optimis akan berlatih lebih semangat dan percaya diri. Remaja yang memiliki hobi menulis dan olahraga Futsal ini merencanakan untuk persiapan yang matang sebelum berlomba di nasional, “Pemanasan terlebih dulu, berdoa sebelum naik ke panggung. Menjaga kesehatan, berlatih teratur, percaya diri, semangat. Yang paling penting adalah berdoa.”  Tuturnya.

Masing-masing dari mereka memiliki tantangan tersendiri dalam berlatih. Namun keduanya tetap optimis bisa menampilkan yang terbaik di bawah bimbingan pelatih, guru dan dukungan kedua orangtua serta para sahabat. Kedua pasangan penari ini memiliki harapan yang sama untuk ajang FLS2N di Nasional maupun kedepannya. “Semoga perlombaan ini bisa membuat kami berusaha lebih keras untuk berlatih, semoga berjalan lancar. Kami bisa menampikan tarian dengan semaksimal mungkin dan penuh percaya diri.” Risma menambahkan “semoga ini dapat membantu kreatifitas siswa-siswi dalam mencurahkan bakat dan minat. Semoga kedepannya ada peluang lagi bagi sekolah dalam ajang ini.”

 

IMAJI MENCIPTAKAN PUISI

Seni cipta puisi membawa Vinni Agustine, siswa yang sekarang duduk di kelas XII IPS 4 bertandang ke kota Industri, Batam, Kepulauan Riau. Didampingi oleh Guru Pembina Kesiswaan Ibu Syafni Erida,S.Pdi.,MPdi. Bersama tiga rekannya yang lain mereka menempati Hotel Golden View.

Sebelum berlomba, Vinni rutin mengikuti bimbingan menulis puisi secara online dari guru Bahasa Indonesianya di sekolah Ibu Nugraheni Dwi Agustin,S.Pd. Persiapan lomba yang terbilang singkat dan bersamaan dengan ujian semester kenaikan kelas, tak membuatnya merasa kesulitan. Ia berusaha membagi waktu dengan baik. Dari tanggal 21 Juni hingga menjelang bertanding ia terus mengasah keterampilannya menulis puisi.

Tema puisi yang dilombakan adalah melalui cipta puisi, siswa mengembangkan potensi diri dan membangun kebersamaan. Waktu yang digunakan selama tiga jam memusatkan kosentrasinya untuk berkreasi dan berimajinasi. Sang guru juga rutin memberikan contoh-contoh puisi untuk referensi dalam mengikuti lomba salah satunya seperti di bawah ini.

JERITAN TANAH DESAKU

Mengalir cerita lewat gerimis

Nafas tanah tersengal basah

Rumput menyaksikan gemetar tubuh

 

Angin mulai berbisik di telinga:

Gema suara melintasi bukit

Apa yang kita tunggu?

sampai tangan petani dilarang menyemai padi?

Seolah subur ladang jadi penghalang

Sedang setiap hari pekik lapar nyaring berbunyi

Mereka tanyakan, kemana perginya luas tanah kami.

 

Nikmat butiran nasi kita beli

Tapi bukan dari petani sendiri

Kita bangga bisa berbelanja

Menawar murah serupiah dua

Sedang mereka tak sempat menghitung

Harga sepetak tanah layak menyambung nyawa

 

Hentikan teriakan mesin-mesin itu

Jangan usir mereka dari tanahnya

Jangan kubur harapan di desa desa

Biarkan tangannya melukis senyum

Di tanah ini kita menggantungkan hidup

Suara mereka seruan segenap bangsa

Yang berhak hidup bebas merdeka

Di tanah pertiwi, gemah ripah loh jinawi.

 

Vinni merangkai puisi dengan tema pesan pahlawan kepada anak cucu. Kita simak puisi karya Vinni berikut ini,

PESAN

Anakku ketahuilah

Ada segulung kisah

Menggumpal dikerongkongan

Setiap hendak kuceritakan padamu

Kerap mengusik lelap malamku

 

 

Satu gulung cerutu tlah mengabu

Namun bedil masa lalu kerap berentum

Runguku merekam jelas jeritan

Tubuh gemetar namun tak gentar

Ditangan teracung sebuah bambu

Mengusir penjajah penjajah itu

Meski tubuhku jadi sarang peluru

Semua untuk negeri ini, anakku!

 

Ada sekelumit harap tersisa

Dari mimpiku yang hampir punah

Senapan waktu mulai menarik pelatuk

Aku tak mau masa depanmu berkabut

Kau tak perlu menjerit takut peluru

Sebeb senjatamu bukan bambu tapi ilmu

Karena kau hidup merdeka sekarang

Tempatmu bukan di medan perang

Tugasmu bukan melawan penjajahan

Tapi berjuang melawan kebodohan

 

Anakku

Peluklah mimpi jiwaku yang renta.

 

Vinni menyadari menulis puisi memelukan imajinasi dan pengalaman batin yang memadai. Sebagai siswa yang baru pertama kali mengikuti lomba ini, Vinni melakukan persiapan dengan sebaik-baiknya. Ia berusaha memahami setiap masukan dari guru pembina bahwa tahapan menulis puisi dimulai dari menyusun narasi, kemudian memperhatikan pemilihan kata dan menjadi pembaca sendiri untuk karya yang telah ditulis sehingga feeling, sense dan tipografi dapat dibuat sesuai dengan pesan di dalam puisi. Berkat kerja keras, motivasi dari teman-teman serta orangtua dan guru, Vinni berhasil meraih juara II dalam lomba FLS2N pertamanya di tingkat provinsi.**NG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *