MENGENALI JEJAK TRADISI DI TOBOALI

NABILA, FINALIS LOMBA JETRADA

Oleh: Nugraheni Dwi Agustin,S.Pd.

 

Mengikuti lomba esai kebudayaan memang bukan merupakan hal yang baru bagi siswa/i di SMA Negeri 1 Lingga. Kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kepulauan Riau yang beralamat di Jl. Pramuka 7 Tanjungpinang menjadi hal yang paling ditunggu.  Ajang menuli esai dikalangan pelajar SMA sederajat se-provinsi Kepuluan Riau, Riau, Jambi dan Kepuluan Bangka Belitung ini adalah tantangan menarik sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap tradisi yang ada di daerah masing-masing peserta.

Dikutip dari brosur lomba, lomba menulis esai kebudayaan ini memiliki latar belakang mengingat Indonesia mempunyai kebudayaan yang jamak dan beragam. Kekayaan dan keragaman budaya yang demikian merupakan bagian dari dinamika pewarisan pada pendukungnya. Di mana pewarisan bukan lagi dimaknai sebagai bentuk paksaan, tetapi merupakan bagian hasil dari komunikasi, negosiasi dan oleh kreasi diantara pendukung budaya.

Terkait penggalian, pelestarian, memelihara, merawat keberagaman budaya selama ini tidak sedikit pihak telah berperan melakukannya. Baik itu perorangan maupun komunitas. Namun, kita tidak boleh terlena, masih banyak yang belum terangkat. BPNB Kepulauan Riau berperan dalam kegiatan-kegiatan penggalian kebudayaan secara edukatif dan motivatif. Salah satunya melalui lomba bidang penulisan. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat memotivasi dan memuncultumbuhkan aktor-aktor penulis dan penggali kebudayaan di masa depan.

Tema utama yang diangkat tahun 2019 ini adalah “Melayu: Tradisiku”. Tema kemelayuan  ini merupakan benang merah yang mengikat wilayah kerja Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepulauan Riau. Sedang “Tradisiku” merupakan upaya mengingat kembali secara personel: aku. Agar menjadi pribadi yang akrab dan intim dengan  tradisinya. Kegiatan ini diinformasikan kepada 35 sekolah di Kepulauan Riau.

Terdapat empat pilihan tema diantaranya mata pencaharian, makanan tradisonal, ritual/ upacara tradisonal dan kesenian tradisional. Seleksi penulisan di sekolah dilakukan oleh guru pembina Karya Ilmiah Remaja yaitu ibu Nugraheni Dwi Agustin, S.Pd selama satu bulan dibantu dengan guru mata pejaran bahasa Indonesia ibu Fitrina Zimarty, S.Pd. Jumlah karya yang berhasil dikumpulkan dari siswa kelas X dan XI kemudian langsung dikirim  melalui surel ke email jetrada19.bpnbkepri@gmail.com secara individu dalam format pdf.  Persyaratan lomba juga sederhana menulis esai sebanyak 15 halaman dan dilengkapi dengan mengisi biodata peserta juga mengisi surat pernyataan bebas plagiat. Pembina secara aktif melakukan konfirmasi setelah naskah dikirim.

Pada…. hari 21 Maret 2019 pengumuman finalis esai dilakukan.  Terpilihlah Nabila Taufiqa siswa kelas X MIPA-2 SMAN 1 Lingga sebagai finalis dengan esai berjudul “Melestarikan Kearifan Lokal dengan Mengenal Kuliner Tradisonal.” Lima finalis lainnya adalah Ajeng Triana dari SMAN 1 Batanghari, Jambi; Mhd. Rizki Kurinawan dari SMAN 1 Karimun, Kepri; Putri Nabiha Dwiriani dari SMAN 1 Pangkalan Kerinci, Riau; Siti Haviza Prada Lopi dari SMAN 1 Karimun, Kepri; dan Susanti dari SMAN 2 Tanjungpandan, Bangka Belitung. Persiapan yang dilakukan finalis selanjutnya adalah menyiapkan presentasi menggunakan format powerpoint yang nanti akan dipresentasikan dihadapan peserta sesama finalis, dewan juri dan siswa/i dari sekolah lain yang diundang dalam kegiatan Jetrada (Jejak Tradisi Daerah) 2019 di Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

 

Berlomba dan Berwisata ke Toboali, Bangka Selatan

Perjalanan panjang ditempuh finalis yang berada di luar provinsi Kepulauan Bangka Belitung seperti Kepri, Riau dan Jambi. Hari Selasa, 26 Maret 2019, Nabila didampingi guru KIR, Ibu Nugraheni bertolak dari pelabuhan Tanjungbuton, Daik Lingga pukul 07:05 wib dengan kapal fery Lintas Kepri. Perjalan selama 30 menit menuju pelabuhan Jagoh, Dabo Singkep. Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan kapal Sabang Marindo menuju Telaga Punggur, Batam-Kepri selama empat jam. Setibanya di Batam pukul 12:30 wib, finalis langsung menuju bandara Hang Nadim untuk menunggu kedatangan rombongan panitia dan peserta lainnya. Pukul 16:35 wib rombongan panitia dan finalis Jetrada 2019 akan terbang dengan pesawat Lion Air (JT 128) dan dijadwalkan tiba pukul 17:35 di Bandara Depati Amir, Pangkalpinang. Sesaat setelah mendarat, rombongan menggunakn mobil van langsung menuju hotel Cordela, Pangkalpinang karena keesokan harinya baru akan menuju kabupaten Toboali, Bangka Selatan.

Rabu, 28 Maret 2019 sekitar pukul 09:00 wib menggunakan mobil van, rombongan berjumlah 18 orang (12 finalis dan 5 panitia) bergerak menuju museum Timah yang terletak di jalan Ahmad Yani no 179, Batin Tikal, Taman Sari, Kota Pangkal Pinang. Museum Timah Indonesia merupakan museum satu-satunya di Asia. Museum ini menempati rumah dinas Hoofdt Administratur Banka Tin Winning (BWT). Museum ini didirikan pada tahun 1958 dengan tujuan mencatat sejarah pertimahan di Bangka Belitung. Musem Timah ini baru resmi di buka sekaligus diresmikan pada 2 Agustus 1997.

Finalis melihat dan mempelajari sejarah penambangan Timah dari tahun ke tahun. Seorang pemandu menjelaskan setiap sisi museum. Koleksi museum timah Bangka terbilang sangat lengkap. Sejarah masuknya tenaga kerja Tiongkok ke Bangka sampai lokasi penghasil timah di dunia bisa kita saksikan lewat peta di dinding-dinding museum. Kita bisa mengamati miniatur kapal peralatan penambangan timah. Selain itu terdapat peralatan penambangan mulai dari tradisional hingga modern. Kita juga dapat melihat pasir alam yang mengandung biji timah dan contoh produk-produk timah yang diekspor ke luar negeri. Keunikan museum ini selain koleksi yang lengkap, unik dan menarik adalah terdapat Bus kayu antik bernama Pownis. Bus ini meraih penghargaan pada pameran Indonesia Calssic N Unique Bus 2019. Kini tersisa hanya dua unit dan hanya satu unit yang masih bisa beroperasi. Pownis merupakan bus dengan bahan fisik kayu jati. Ruang kemudi bus kayu mempertahankan interior Colt Diesel 100 PS. Rombongan finalis diajak berkeliling kota Pangkal Pinang selama 30 menit. Perjalanan dimulai dengan melihat rumah dirut PT Timah, kompleks perumahan pegawai timah, sumber air minum pertama, Rumah Sakit pertama, pejara, dan taman Wihelmina.

Sekitar pukul 10 pagi, barulah rombongan bergerak menuju Toboali. Lama perjalanan tiga jam. Rombongan pun tiba sekitar pukul satu siang dan langsung check in di hotel Grand Marina, Toboali.

Kegiatan pembukaan Jetrada 2019 dilakukan malam hari. Dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Bangka Selatan dan ketua LAM Bangka Selatan. Sambutan disampikan oleh kepala BPNB Kepri. Narasumber memaparkan informasi budaya Bangka Selatan dengan kemasan yang cukup menarik. Sesi 1 Pelestarian Kebudayaan dan Pembangunan Karakter oleh Toto Sucipto kepala BPNB Kepri. Sesi 2 Makanan dan Kebudayaan oleh Jauhar Mubarok, ketua kegiatan Jetrada 2019. Sesi 3 Adat dan Tradisi Bangka Selatan oleh Bpk Suhaili Ketua LAM. Sesi 4 Identitas dan Pelestarian Budaya Bangka Selatan, Kulul seorang tokoh Budayawan.

Baru keesokan harinya yaitu presentasi finalis lomba menulis esai. Kegiatan presentasi lomba dijadwalkan pagi, pada 28 Maret 2019, pukul 08.00 wib di lantai auditorium hotel. Hal menarik dalam lomba esai ini adalah secara teknis, finalis ditugaskan menjadi moderator ketika finalis lain presentasi begitu juga sebaliknya.

Nabila Taufiqa, finalis dari SMAN 1 Lingga mendapat kesempatan tampil nomor urut empat. Siswa berdarah Melayu Tanjungpinang ini juga menjadi moderator pertama untuk Mhd. Riski dari SMAN 1 Karimun. Karena ini pengalaman pertama, Nabila mengaku gugup. Ia pun akhirnya berhasil menyelesaikan tugas presentasinya setelah ashar. Pukul 0dibung8:45- 22:00 wib diadakan pemutaran film dokumenter.

Berwisata ke  Air Gegas Mengenal Tradisi Telok Herujo dan Hikok Helawang

   Menggunakan bus pariwisata rombongan finalis dan pelajar dari 7 sekolah SMA sederajat se-Kabupaten Bangka Selatan diberangkatkan menuju desa Air Gegas. Desa Air Gegas  memiliki tradisi Telok Herujo sebagai simbol perwujudan rasa syukur untuk kebahagiaan dan kelahiran hidup yang baru. Bentuk asli Telok Herujo terdiri dari telur rebus yag diberi warna merah kemudian ditusuk dengan lidi pohon aren yang ujungnya terdapat hiasan bunga seroja. Bagian bawahnya terdapat ketan yang dibungkus dan disusun di batang pisang sebagai wadah untuk merangkai Telok Herujo. Baru saja desa Air Gegas berulang tahun maka diadakan arak-arakan Telok Herujo di sepanjang jalan dengan hiasan yang begitu meriah dan kombinasi yang sangat menarik. Peserta kegiatan Jetrada juga mendapat pengetahuan tentang cara membuat sarung telur yang sudah modern dan menghiasi lidinya oleh ibu ketua PKK.

Tradisi Hikok Helawang (Satu pintu bersama-sama) merupakan tradisi yang dilakukan bertepatan pada peringatan 1 Muharram. Tradisi ini dilakukan setiap tahunnya di Desa Nyelanding, Kabupaten Bangka Selatan. Tradisi ini hampir mirip dengan tradisi Sepintu Sedulang.  Bedanya dengan dulang yang dibawa oleh warga dan disantap beramai-ramai dalam tradisi ini wajib menyertakan ayam kampung dan ketan pulut. Saking meriahnya acara ini bisa menandingi kemeriahan lebaran. Masyarakat di daerah ini pernah sampai menyiapkan ayam sebanyak 200 kg. Jika kita datang, walaupun tidak kenal dengan masyarakatnya, kita akan diajak masuk rumah dan disiapkan hidangan satu dulang yang berisi ayam panggang dan ketan. Menurut Camat Air Gegas, mengapa dipilih ayam sebagai lauk dan ketan untuk menyantapnya, karena ayam mengandung arti kegigihan dan disiplin sebab ayam telah mencari makan sejak subuh dan ketan makanan yang lengket melambangkan kebersamaan.

Selain itu juga terdapat tradisi makan jamaah yang disebut Nanggung Dulang. Tradisi makan berdulang ini merupakan makan bersama-sama. Ini merupakan budaya sejak dahulu kala. Nanggung adalah budaya membawa makanan lengkap di atas dulang yang ditutup dengan tudung saji berwarna merah dan bermotif. Di dalamnya berisi lauk-pauk. Lauk-pauk lainnya boleh menyesuaikan kemampuan ekonomi masyarakat. Sedangkan dulang adalah talam atau nampan yang biasanya terbuat dari kuningan dan bentuknya bulat. Rombongan dijamu oleh masyarakat Air Gegas  sebelum menunaikan Sholat Jumat.

 

Geowisata Batu Belimbing dan Pantai Kapur, Toboali

Objek wista ini terletak di Dusun Jebu, laut Desa Kelabat, Toboali di Kabupaten Bangka Selatan. Pemandangan hijau pepohonan memanjakan mata. Dinamakan Batu Belimbing karena tekstur batu menyerupai belimbing. Tekstur tersebut terbentuk secara alami oleh pengikisan curah hujan yang diperkirakan terjadi selama ratusan tahun yang lalu.  Menurut pakar Geologi, batuan granit formasi klabat merupakan hasil pembekuan magma di dalam perut bumi pada 270 juta tahun yang lalu dengan komposisi Batu Belimbing ini terdiri dari mineral biotit, pyroksen, hornblende, kuarsa, plagiokas, cassitrerit, dan amphibol. Struktur geologi tersebut berupa rekahan tegak (columnar joint) akibat pendinginan batu beku yang arah kolomnya tegak lurus bidang permukaan tubuh intrusi, karena adanya daya endogen maka tubuh batuan beku yang awalnya berada dalam perut bumi tersebut mengalami pengangkatan pelapukan sehingga membentuk kenampakan geomorfologi seperti seakarang ini.

Pembuatan Terasi Toboali yang Terkenal di Bangka

     Berdasarkan informan yang ditemui oleh panitia dan rombongan Jetrada, masyarakat Toboali sangat terkenal dengan produk olahan terasi. Terasi yang dihasilkan berasal dari jenis udang kecil. Teksturnya lembut, warna kemerahan dan aroma udang yang menyengat. Pembuatan industri rumahan terasi di Toboali dimulai sejak tahun 1972. Proses pembuatan terasi dimulai dari tahap penjemuran, kemudian udang ditumbuk dan dicampur garam laut di dalam lesung kayu. Setelah ditumbuk kasar, maka bahan setegah jadi tersebut diendapkan selama satu hari. Keesokannya bahan yang telah diendapkan tersebut dijemur kambali dan ditumbuk hingga halus dan proses pengepakan dilakukan. Pemasaran produk terasi ini menjangkau wilayah PangkalPinang, Sungailiat, Koba, Muntok, Jakarta bahkan luar negeri. Masyarakat menjual dengan harga Rp50 ribu per-kg.

Acara Penutupan Dimeriahkan Penampilan Seni Para Finalis    

Malam penutupan, panitia menyulap ruangan lomba berbentuk leter u. Bangku-bangku melingkar memberi ruang untuk pementasan seni tradisi khas Bangka Selatan. Penampilan tarian dari sanggar Seni Pelangi begitu menarik. Ditambah lagi penampilan grup tarian kolosal 5 remaja lelaki yang gagah. Finalis membuat kolaborasi nyanyian bersama membawakan lagu “Gemu Fa Mi Re” dan suasana meriah semakin tercipta. Diakhir acara dimeriahkan juga dengan seni Dambus dansa berpasangan dengan musik yang apik dan gerakan yang ciamik. Semua peserta ikut terlibat berdansa. Peserta yang berasal dari luar provinsi Bangka ikut mempelajari gerakannya dan menari bersama.

Acara perpisahan yang mengharukan dengan peserta rombongan berlangsung keesokan paginya. Kebersamaan yang dijalani selama satu minggu telah menumbukan keakraban satu sama lain. Mereka saling berswa foto dan membuat grup WA. Selamat berpisah kawan-kawan. Selamat berkumpul kembali dengan keluarga dan handai taulan. Semoga bertemu kembali di lain kesempatan. Aamiin.**NG

 

 

FOTO-FOTO

 

Museum Timah Bangka

Museum Timah, Bangka

Nabila Taufiqa dan Guru pendamping KIR, Ibu Nugraheni Dwi Agustin,S.Pd

Rombongan Jetrada Toboali 2019 bersia-siap menuju lokasi perjalanan wisata

 

Rombongan tiba di Desa Air Gegas sentral pelestarian tradisi kecamatan Toboali

Geowisata Batu Belimbing, Tobolali

 

Kegiatan Makan Bedulang Masyarakat Air Gegas

Persiapan Rombongan menuju Desa Air Gegas

 

Kegiatan melihat pembuatan Teluk Herujo dan Hikok Helawang serta makan Bedulang masyarakat Air Gegas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *